- Management
- BNSP
- Business Training Series
- Communication Training Series
- CSR & Community Development Training Series
- Human Resources Development Training Series
- Leadership Training Series
- Management Training Series
- Marketing & Sales Training Series
- Media Training Series
- Motivation Training Series
- Outbond and Team Building Program
- Public Relations / Humas Training Series
- Secretaries Training Series
- Security Training
- UMKM / Start-Up Business Program
- Functional
- Collection Training Series
- Finance and Accounting Training Series
- Logistics Training Series
- Management Project Training Series
- Manufacturing Training Series
- Microsoft Office Training Series
- Operation and Maintenance
- Pajak Training Series
- Perbankan Training Series
- Perhotelan Training Series
- Procurement & Purchasing Training Series
- Production Training Series
- Technical
- Specialist Areas
- Advertising, Printing, and Media Industry
- Agribusiness Industry
- Analisis Mendalam Dampak Lingkungan (AMDAL)
- Artificial Intelligence & Data Science
- Automotive Industry
- Computer Services and Other Devices Industry
- Construction Industry
- Consumer Goods Industry
- Diklat / Bimtek Pemerintah
- E-Commerce Industry
- Electronics Industry
- Energy Industry
- Export – Import Training Series
- Financial Industry – Bank
- Financial Industry – Insurance
- Training ISO
- Training MSDM
- Training Lainnya
Training Manajemen Jam Kerja Fleksibel: Solusi HR di Era Hybrid Working

Perubahan besar dalam dunia kerja pasca-pandemi telah mempercepat penerapan sistem kerja fleksibel. Karyawan kini tidak lagi terikat sepenuhnya pada pola 9-to-5 di kantor. Sebaliknya, mereka lebih produktif ketika diberikan kebebasan untuk mengatur jam kerja sesuai kebutuhan pribadi dan profesional.
Hybrid working atau sistem kerja campuran menjadi standar baru di banyak perusahaan. Model ini menggabungkan kerja di kantor dengan remote working. Agar tetap efektif, HR dituntut menguasai manajemen jam kerja fleksibel.
Pelatihan atau training tentang manajemen jam kerja fleksibel hadir sebagai solusi bagi HR dan Manager agar dapat menyusun kebijakan kerja hybrid yang adil, produktif, dan sesuai dengan regulasi ketenagakerjaan.
Regulasi Jam Kerja Menurut Aturan Ketenagakerjaan
Di Indonesia, jam kerja masih diatur oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan. Namun, seiring dengan perkembangan digital dan tren hybrid working, HR perlu memahami cara menyesuaikan aturan lama dengan kebutuhan baru.
Beberapa poin utama regulasi yang relevan:
Jam kerja normal: 40 jam per minggu (5 hari kerja x 8 jam, atau 6 hari kerja x 7 jam).
Lembur: Diperbolehkan maksimal 4 jam per hari atau 18 jam per minggu, dengan kompensasi yang jelas.
Hak istirahat: 30 menit setelah 4 jam kerja berturut-turut.
Cuti tahunan: Minimal 12 hari kerja setelah 12 bulan masa kerja.
Tantangan HR dalam Mengelola Jam Kerja Fleksibel
HR menghadapi sejumlah tantangan dalam implementasi jam kerja fleksibel, antara lain:
Mengukur Produktivitas – Bagaimana menilai kinerja karyawan jika tidak selalu hadir di kantor?
Keseimbangan Hak dan Kewajiban – Perusahaan harus memastikan aturan jam kerja fleksibel tetap melindungi hak pekerja.
Risiko Overworking – Tanpa aturan yang jelas, karyawan bisa bekerja lebih dari batas wajar.
Keselarasan dengan Regulasi – Hybrid working tidak boleh melanggar UU Ketenagakerjaan.
Kultur Perusahaan – Tidak semua organisasi siap mengadopsi fleksibilitas jam kerja.
Manfaat Training Manajemen Jam Kerja Fleksibel
Mengikuti training ini memberikan sejumlah manfaat nyata:
Pemahaman regulasi terkait jam kerja, lembur, dan fleksibilitas.
Keterampilan menyusun kebijakan internal yang sesuai kebutuhan perusahaan.
Mengurangi potensi konflik antara manajemen dan karyawan.
Meningkatkan engagement karyawan karena mereka merasa lebih dipercaya.
Optimalisasi produktivitas melalui sistem kerja berbasis hasil (output-based).
Materi yang Dipelajari dalam Training
Training manajemen jam kerja fleksibel mencakup modul:
Konsep dasar jam kerja fleksibel dan hybrid working.
Aspek hukum jam kerja dan lembur.
Perancangan kebijakan jam kerja fleksibel di perusahaan.
Teknik monitoring kinerja karyawan hybrid.
Studi kasus implementasi jam kerja fleksibel di berbagai industri.
Simulasi penyusunan kontrak kerja dengan klausul jam kerja fleksibel.
Contoh Kasus Nyata
Sebuah perusahaan konsultan di Jakarta menghadapi masalah turnover tinggi karena karyawan merasa terbebani jam kerja konvensional. Setelah HR mengikuti training manajemen jam kerja fleksibel, perusahaan menerapkan sistem hybrid:
Karyawan wajib hadir di kantor 3 hari per minggu.
Jam kerja disesuaikan kebutuhan proyek (output-based).
Meeting rutin dilakukan secara online.
Hasilnya, tingkat kepuasan karyawan meningkat 40% dan turnover berkurang drastis dalam 6 bulan.
Strategi Implementasi Jam Kerja Fleksibel
Agar sukses, HR dapat menerapkan langkah-langkah berikut:
Analisis kebutuhan perusahaan – Apakah semua divisi bisa hybrid, atau hanya bagian tertentu?
Susun kebijakan tertulis – Termasuk aturan jam kerja inti, lembur, dan kompensasi.
Gunakan teknologi HRIS – Untuk absensi digital, pengukuran produktivitas, dan laporan kerja.
Sosialisasi ke karyawan – Pastikan mereka memahami aturan baru.
Evaluasi berkala – Lakukan penyesuaian kebijakan berdasarkan feedback.
Tabel berikut bisa membantu HR merancang opsi jam kerja fleksibel:
| Model Jam Kerja | Deskripsi | Cocok untuk |
|---|---|---|
| Flextime | Karyawan bebas menentukan jam masuk & pulang, dengan jam inti tertentu | Divisi kreatif, konsultan |
| Hybrid | Kombinasi kerja di kantor & remote | Startup, perusahaan digital |
| Compressed Week | 40 jam kerja diselesaikan dalam 4 hari | Industri proyek, konsultan |
| Remote Full | 100% bekerja dari rumah | IT, digital marketing |
Keterkaitan dengan Pelatihan HR Lain
Mengelola jam kerja fleksibel tidak bisa dilepaskan dari pemahaman aturan ketenagakerjaan secara menyeluruh. Untuk itu, HR disarankan juga mengikuti Training Pahami Aturan Ketenagakerjaan Terbaru : Panduan Bagi HR dan Manager 2025 agar memiliki pemahaman komprehensif terkait regulasi tenaga kerja terbaru.
FAQ
1. Apakah jam kerja fleksibel melanggar aturan ketenagakerjaan?
Tidak, selama total jam kerja sesuai regulasi (40 jam per minggu) dan hak karyawan tetap dipenuhi.
2. Bagaimana cara mengukur produktivitas karyawan hybrid?
Dengan sistem penilaian berbasis output dan KPI yang jelas.
3. Apakah semua jenis pekerjaan cocok dengan jam kerja fleksibel?
Tidak. Pekerjaan yang bersifat produksi massal atau layanan publik tetap membutuhkan jam kerja konvensional.
4. Apa risiko terbesar dari jam kerja fleksibel?
Overworking dan kebingungan aturan jika HR tidak membuat kebijakan tertulis yang jelas.
Kesimpulan
Training manajemen jam kerja fleksibel menjadi solusi strategis HR dalam menghadapi era hybrid working. Dengan regulasi ketenagakerjaan terbaru, HR dituntut mampu menyusun kebijakan jam kerja yang adil, legal, dan produktif.
Karyawan yang diberi fleksibilitas cenderung lebih puas, loyal, dan produktif. Sebaliknya, perusahaan yang gagal beradaptasi berisiko kehilangan talenta terbaiknya. Oleh karena itu, pelatihan ini penting untuk memastikan perusahaan tetap kompetitif di era kerja modern.
Segera daftarkan tim HR Anda dalam training manajemen jam kerja fleksibel 2025 dan kuasai strategi pengelolaan hybrid working secara efektif, legal, dan berkelanjutan.

