Marketing & Sales Training Series

Training Direct Selling & Network Marketing Strategy

Dalam lanskap bisnis yang semakin kompetitif dan dinamis, metode penjualan tradisional sering kali tidak cukup untuk memenangkan persaingan. Salah satu pendekatan yang tetap relevan hingga tahun 2025 adalah pemasaran langsung (direct selling) dan pemasaran jaringan (network marketing). Melalui artikel ini, kita akan membahas secara mendalam mengenai Training Direct Selling & Network Marketing Strategy — meliputi definisi, manfaat, komponen pelatihan, implementasi dalam konteks Indonesia, regulasi yang berlaku, serta tantangan dan cara mengatasinya. Artikel ini juga berkaitan dengan arah pelatihan lainnya seperti Training Value-Based Selling yang memperkuat keterampilan tim sales dalam menawarkan nilai kepada pelanggan.


Memahami Direct Selling dan Network Marketing

Apa Itu Direct Selling?

Direct selling, atau penjualan langsung, adalah sistem di mana sebuah perusahaan memasarkan produknya melalui jaringan penjual independen yang melakukan penjualan langsung ke konsumen — tidak melalui toko ritel biasa atau jalur distribusi tradisional.
Menurut Permendag No. 70 Tahun 2019 tentang Distribusi Barang Secara Langsung, direct selling dapat dilakukan dalam bentuk:

  • Penjualan langsung satu tingkat (Single-Level Marketing) — di mana seorang penjual langsung menjual produk ke konsumen tanpa jaringan berjenjang.

  • Penjualan langsung multi tingkat (Multi-Level Marketing / MLM) — di mana penjual tidak hanya menjual produk, tapi juga merekrut jaringan, dan mendapatkan komisi/bonus dari hasil penjualan jaringan tersebut. 
    Dalam pelatihan ini, kita akan membahas kedua bentuk tersebut dalam konteks strategis dan etis.

Apa Itu Network Marketing?

Network marketing adalah istilah yang sering dipakai untuk merujuk pada MLM atau jaringan penjualan di mana seorang peserta tidak hanya melakukan penjualan tapi juga membangun dan memimpin tim penjualan di bawahnya, kemudian mendapatkan imbalan berdasarkan performa tim. Strategi ini sangat bergantung pada kepemimpinan, motivasi, pelatihan tim, dan sistem kompensasi yang jelas.

Hubungan Antara Keduanya

Secara umum, direct selling adalah payung besar untuk metode penjualan langsung ke konsumen, sedangkan network marketing adalah salah satu varian dari direct selling yang menggunakan jaringan atau struktur tim. Pelatihan ini akan membantu Anda membedakan, merancang, dan menjalankan strategi yang sesuai dengan model bisnis Anda, sambil memastikan kepatuhan regulasi dan etika yang berlaku.


Mengapa Training Direct Selling & Network Marketing Strategy Penting di Tahun 2025

Menjalankan strategi direct selling dan network marketing memerlukan kompetensi khusus—mulai dari penjualan individu, pengelolaan jaringan, motivasi anggota, hingga kepatuhan regulasi. Beberapa alasan mengapa pelatihan ini sangat relevan saat ini:

  • Perubahan pola konsumsi dan distribusi: Dengan perkembangan teknologi digital dan e-commerce, model penjualan langsung melalui jaringan serta dukungan digital menjadi semakin penting.

  • Kekuatan jaringan dalam pemasaran: Model network marketing memungkinkan penetrasi pasar lebih luas melalui jaringan independen, yang bisa sangat efektif bila dikelola secara profesional.

  • Regulasi dan etika yang semakin ketat: Di Indonesia, bisnis direct selling diatur secara jelas untuk mencegah praktik skema piramida atau aktivitas yang merugikan konsumen. Pelatihan akan membantu memahami regulasi seperti Permendag No. 70/2019 dan PP 29/2021.

  • Kebutuhan pelatihan leadership dan pengembangan tim: Network marketing bukan hanya soal menjual produk — banyak aspek manajemen tim, sistem kompensasi, motivasi, dan pelatihan ulang yang diperlukan agar jaringan dapat tumbuh dan bertahan.

  • Integrasi dengan strategi marketing & sales yang lebih luas: Pelatihan ini dapat dihubungkan dengan program lain seperti Training Inbound Marketing dan Lead Generation maupun Training Value Based Selling untuk meningkatkan efektivitas keseluruhan tim pemasaran dan penjualan.

Karena alasan-alasan tersebut, perusahaan yang ingin memperkuat saluran penjualan langsung dan jaringan pemasaran perlu memiliki program pelatihan yang terstruktur dan relevan dengan kondisi bisnis masa kini.

Bimtek Lainnya :  Training Marketing Automation dan Email Marketing: Strategi Efektif Meningkatkan Penjualan dan Loyalitas Pelanggan di Era Digital

Komponen Utama dalam Training Direct Selling & Network Marketing Strategy

Program pelatihan yang baik biasanya terdiri dari beberapa modul inti yang membahas aspek teknis, praktis, dan strategis. Berikut rangkuman modul yang sebaiknya dimasukkan:

ModulIsi PokokFokus Utama
1. Fondasi Direct Selling & Network MarketingDefinisi, model bisnis, etika, regulasiMemahami kerangka dasar
2. Produk, Nilai & Value PropositionCara menetapkan produk yang kuat, manfaat bagi konsumen, narasi nilaiMenjual lebih dari produk
3. Strategi Rekrutmen & JaringanMembangun tim, motivasi, pelatihan internalJaringan yang produktif
4. Sistem Kompensasi & PenghargaanStruktur komisi, bonus, insentif, retensi anggotaMendorong performa
5. Pemasaran Digital & Penjualan LangsungPemanfaatan media sosial, live selling, webinar, platform digitalPerluasan saluran
6. Kepatuhan Regulasi & EtikaMemahami regulasi seperti Permendag, SIUPL, mencegah skema piramidaBisnis yang sah & berkelanjutan
7. Monitoring, Analisis & Pengembangan JaringanMengukur performa jaringan, retensi, churn, optimasiKeberlanjutan bisnis

Modul-modul tersebut mencakup baik aspek individual (penjual langsung) maupun aspek manajerial (pemimpin jaringan), sehingga program pelatihan bisa diterapkan skala tim maupun organisasi.


Strategi Implementasi Program Training

Agar program pelatihan menjadi efektif dan berdampak, berikut langkah-strategis yang dapat diikuti:

  1. Analisis kebutuhan organisasi dan jaringan

    • Audit mode direct selling atau network marketing yang sudah berjalan: struktur jaringan, sistem kompensasi, tingkat retensi, retensi anggota, saluran digital yang dipakai.

    • Identifikasi gap kompetensi: apakah anggota jaringan memahami nilai produk, apakah sistem kompensasi jelas, apakah pemimpin jaringan memiliki keterampilan manajemen?

  2. Tentukan tujuan, sasaran, dan KPI pelatihan

    • Contoh KPI: meningkatkan tingkat retensi anggota jaringan sebesar 20% dalam 12 bulan, meningkatkan volume transaksi per anggota sebanyak 15%, memperluas anggota aktif sebanyak 25%.

    • Pastikan tujuan selaras dengan strategi sales dan pemasaran perusahaan serta program lainnya seperti Training Value-Based-Selling.

  3. Desain modul dan format pelatihan

    • Format: kombinasi workshop tatap muka/virtual, role-play, simulasi network building, live selling praktik.

    • Libatkan peserta dari berbagai tingkatan: penjual individu, pemimpin jaringan, tim marketing, tim compliance.

    • Sertakan materi terkait regulasi dan etika bisnis agar jaringan beroperasi secara legal dan berkelanjutan.

  4. Integrasi dengan sistem bisnis dan digitalisasi

    • Pastikan sistem pendukung seperti CRM, aplikasi jaringan, dashboard performa, dan materi digital (video, modul online) siap tersedia.

    • Saluran digital menjadi penting: live streaming produk, webinar rekrutmen, platform komunitas jaringan.

  5. Pelaksanaan dan penguatan jaringan

    • Luncurkan pelatihan, lakukan role-play langsung, beri tugas nyata kepada peserta: membangun jaringan kecil, melakukan penjualan langsung, membuat konten live.

    • Pemimpin jaringan perlu melakukan coaching, mentoring anggota baru secara rutin.

  6. Monitoring, evaluasi, dan optimasi

    • Lakukan evaluasi setelah periode tertentu (misalnya 3 bulan, 6 bulan, 12 bulan): apakah volume penjualan meningkat, retensi anggota meningkat, churn menurun?

    • Gunakan tabel tracking performa anggota jaringan, aktivitas live selling, aktivitas rekrutmen, serta feedback peserta.

  7. Sustainabilitas dan pembaruan program

    • Training bukan sekali saja: perlu ada sesi refresher, update materi sesuai tren digital baru (misalnya sosial media, digital live selling, gamification jaringan), dan pengembangan leadership jaringan.

    • Pastikan sistem penghargaan dan pengakuan anggota jaringan berjalan terus-menerus agar motivasi tinggi.


Regulatory dan Etika dalam Direct Selling & Network Marketing di Indonesia

Untuk memastikan bahwa bisnis direct selling dan network marketing beroperasi secara sah dan beretika, pelatihan ini harus mencakup pemahaman regulasi berikut:

  • Permendag No. 70 Tahun 2019 tentang Distribusi Barang Secara Langsung mengatur bahwa perusahaan penjualan langsung harus berbadan hukum PT dan memiliki program pemasaran, komisi/bonus berdasarkan hasil penjualan barang kepada konsumen.

  • PP No. 29 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perdagangan mengatur tentang distribusi barang termasuk sistem direct selling.

  • Regulasi izin: menurut data Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI), perusahaan direct selling di Indonesia harus memiliki Surat Izin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL).

  • Etika bisnis: penting untuk menghindari skema piramida yang dilarang — berbeda dengan MLM yang sah, skema piramida menekankan imbalan dari rekrutmen bukan penjualan barang.

Bimtek Lainnya :  Training Customer Service Excellence untuk Meningkatkan Loyalitas Tahun 2025

Pelatihan harus memastikan bahwa seluruh pihak dalam jaringan memahami syarat legal, menyepakati kode etik, transparan dalam program pemasaran, dan melaporkan dengan benar struktur komisi dan bonus kepada anggota.


Manfaat Pelatihan untuk Organisasi dan Jaringan

Pelatihan direct selling dan network marketing yang terstruktur akan memberikan banyak manfaat, di antaranya:

  • Peningkatan efektivitas penjualan langsung: anggota jaringan mampu menjual dengan lebih profesional, memahami value produk, serta berkomunikasi dengan konsumen secara tepat.

  • Peningkatan kualitas dan retensi jaringan: pemimpin jaringan lebih siap memotivasi, melatih, dan mempertahankan jaringan sehingga churn menurun dan produktivitas jaringan meningkat.

  • Kepastian legal dan reputasi bisnis: melalui pemahaman regulasi dan etika, perusahaan serta jaringan menghindari risiko skema ilegal maupun reputasi buruk.

  • Integrasi dengan saluran digital: jaringan dapat memanfaatkan live selling, media sosial, webinar, dan komunitas online untuk memperluas jangkauan.

  • Peningkatan sinergi antara tim marketing dan jaringan penjualan: pelatihan memfasilitasi komunikasi, alur yang jelas antara produk, pemasaran, distribusi jaringan, dan dukungan.

  • Sistem yang berkelanjutan: melalui sistem pelatihan, monitoring, dan coaching, bisnis jaringan tidak hanya tumbuh, tetapi juga bertahan dalam jangka panjang.


Tantangan Umum dan Cara Mengatasinya

Beberapa tantangan yang sering muncul dalam menjalankan direct selling dan network marketing, serta strategi mengatasinya:

  • Mindset “jualan langsung = tembak semampu mungkin”
    Solusi: Pelatihan harus menekankan servisi, value produk, hubungan dengan konsumen, bukan hanya rekrutmen cepat.

  • Rekrutmen yang berlebihan tanpa pendalaman produk
    Solusi: Modul rekrutmen harus mencakup pelatihan produk, penjualan, etika, bukan hanya gimmick bonus.

  • Kompleksitas sistem kompensasi yang tidak dipahami anggota jaringan
    Solusi: Jelaskan skema komisi dan bonus secara sederhana, buat simulasi, dan pastikan transparansi — sesuatu yang regulasi Permendag 70/2019 juga minta.

  • Kurangnya pelatihan dan pembinaan berkelanjutan
    Solusi: Sediakan coaching rutin, komunitas internal, forum best practice, dan program pengembangan leadership jaringan.

  • Mengabaikan regulasi dan risiko reputasi bisnis
    Solusi: Sertakan sesi regulasi di dalam pelatihan, audit internal jaringan, dan buat kanal keluhan untuk anggota jaringan dan konsumen.

  • Sulitnya digitalisasi jaringan dan pemasaran modern
    Solusi: Modul khusus digital selling dan network marketing online, penggunaan platform komunitas, live streaming, dan analitik jaringan.


Tabel Checklist Implementasi Training Direct Selling & Network Marketing

Untuk mempermudah implementasi program pelatihan, berikut tabel checklist yang bisa digunakan:

NoTindakanStatusCatatan
1Audit model direct selling/network yang sudah berjalan
2Identifikasi kebutuhan pelatihan (produk, jaringan, digital)
3Tetapkan tujuan dan KPI pelatihan jaringan
4Rancang modul pelatihan (fondasi, rekrutmen, kompensasi, digital, regulasi)
5Libatkan peserta dari semua level: penjual individu, pemimpin jaringan, marketing, compliance
6Siapkan materi digital: video, simulasi, platform komunitas
7Laksanakan pelatihan dengan praktek langsung (role-play, simulasi, live selling)
8Integrasikan sistem digital: CRM, aplikasi jaringan, dashboard performa
9Monitor dan evaluasi hasil (volume penjualan, retensi anggota, churn, pertumbuhan jaringan)
10Sediakan coaching berkala, update materi, forum best practice
11Pastikan semua proses dan sistem mematuhi regulasi (Permendag 70/2019, PP 29/2021) dan etika bisnis
Bimtek Lainnya :  Training Sustainability & ESG in Business Tahun 2025

Hubungan dengan Fungsi Marketing dan Sales Modern

Training direct selling & network marketing tidak berdiri sendiri—ia saling terkait dengan fungsi marketing dan sales secara lebih luas:

  • Tim marketing menyediakan dukungan materi dan kampanye yang digunakan oleh jaringan—seperti konten live, brosur digital, landing page produk.

  • Tim sales (atau penjual langsung) melalui jaringan menjalankan interaksi langsung dengan konsumen, membangun hubungan personal, dan memanfaatkan jaringan untuk memperluas jangkauan.

  • Leadership jaringan mengambil peran manajerial: memimpin tim, melatih anggota, memotivasi, memantau performa jaringan.

  • Pelatihan ini bisa menjadi lanjutan setelah program seperti Training Inbound Marketing dan Lead Generation dan Training Value-Based Selling — sehingga organisasi memiliki ekosistem pemasaran, penjualan langsung, dan jaringan yang terintegrasi secara profesional.


Implementasi di Konteks Indonesia

Dalam konteks pasar dan regulasi Indonesia, beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam desain dan pelaksanaan training:

  • Perusahaan direct selling wajib memiliki izin dan memenuhi regulasi seperti SIUPL.

  • Model bisnis harus sah dan bukan skema piramida — pelatihan harus mencakup pemahaman perbedaan antara MLM (yang legal) dan skema piramida (yang dilarang).

  • Adaptasi budaya lokal sangat penting: dalam network marketing di Indonesia, budaya komunitas, kekeluargaan, motivasi sosial sering menjadi faktor kunci. Pelatihan harus mempertimbangkan aspek ini.

  • Pemanfaatan teknologi dan digitalisasi jaringan sangat relevan: penggunaan aplikasi chat (WhatsApp, Telegram), media sosial (Instagram, TikTok), live streaming produk, komunitas online jaringan.

  • Sebagai external link relevan: Anda dapat merujuk situs resmi regulasi seperti bapak/menteri perdagangan, misalnya Permendag No. 70/2019.

  • Memberikan studi kasus lokal: pelatihan sebaiknya mencantumkan contoh keberhasilan direct selling/network marketing di Indonesia agar peserta lebih mudah memahami tantangan dan strategi adaptasi.


Kesimpulan

Pelatihan Training Direct Selling & Network Marketing Strategy adalah investasi strategis bagi organisasi yang ingin memperkuat saluran penjualan langsung dan membangun jaringan pemasaran yang produktif dan berkelanjutan. Dengan memahami model bisnis, mengembangkan kompetensi jaringan, mengintegrasikan teknologi digital, serta mematuhi regulasi dan etika, perusahaan dan tim Anda akan lebih siap menghadapi dinamika pasar di tahun 2025. Pelatihan ini akan memperkaya ekosistem pemasaran, penjualan langsung, dan jaringan sehingga menciptakan keunggulan kompetitif yang tahan lama.


FAQ

1. Apakah direct selling dan network marketing sama?
Tidak persis. Direct selling adalah metode penjualan langsung ke konsumen tanpa jalur ritel tradisional. Network marketing adalah bentuk dari direct selling yang menggunakan jaringan (tim) dan struktur berjenjang. Pelatihan ini membahas keduanya secara komprehensif.

2. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk melihat hasil dari pelatihan jaringan?
Hasil awal seperti peningkatan aktivitas jaringan atau penjualan bisa terlihat dalam 3–6 bulan setelah pelatihan dan implementasi. Namun untuk pertumbuhan jaringan yang signifikan dan retensi tinggi, biasanya diperlukan 9-12 bulan atau lebih dengan sistem coaching dan monitoring yang konsisten.

3. Bagaimana memastikan bahwa network marketing bukan skema piramida?
Pastikan bahwa imbalan atau bonus diberikan berdasarkan penjualan produk kepada konsumen — bukan semata-mata atas rekrutmen anggota baru. Regulasi seperti Permendag 70/2019 menjelaskan perbedaan antara MLM yang legal dengan skema piramida.

4. Apakah pelatihan jaringan relevan untuk bisnis digital atau e-commerce?
Ya. Meskipun network marketing tradisional sering berbasis penjualan langsung tatap muka, saat ini banyak jaringan yang memanfaatkan platform digital, live streaming, komunitas online, dan e-commerce sebagai bagian dari strategi. Pelatihan harus memasukkan aspek digital untuk relevansi di era sekarang.


Sertakan tim Anda, ikuti pelatihan, bangun jaringan yang solid, dan kembangkan strategi direct selling dengan sistem yang profesional dan sesuai regulasi. Mulailah sekarang.

author-avatar

Tentang EDUKASINDO

SENTRA MEDIA EDUKASINDO merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendampingan kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan kemajuan di bidang pendidikan dan telekomunikasi. Kami melayani individu yang menjadi bagian dari suatu organisasi, baik sebagai karyawan maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) di lembaga pemerintah. Kami berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan SDM di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *